Thursday, April 28, 2011

Diri yang tidak mengerti


Jiwaku,
Yang keliru,
Antara syariat dan tuntutan fitrah nafsu,
Benar aku ingin bertaubat,
Dari dosa2 ini,
Namun kronologi hidupku,
Masih menjerat aku dalam langkah2 dinihari...

Dan aku sering kalah,
Dalam mengaut ketaatan dalam melawan nafsu,
Namun dalam hati sudah terbit rasa bersalah,
Rasa lelah,
Untuk bermain lagi walau hanya dgn api-api kecil...

Sudahlah,
Diriku sudah!
Hatiku sering merajuk,
Dengan perlakuanku yang menyalahi kata hatiku....

Namun nafsuku sering berbisik kecil,
Merasa seronok yang seketika,
Merasa ingin terus dibela,
Walau salah2nya terang lagi nyata...

Sudahlah nafsu,
Korbanlah!
Hati sering berbisik...

Lalu aku meratap,
Meminta tolong dari Allah,
Hiaskanlah aku dgn syariat Ya Rabb!
Hiaskanlah aku dgn syariat Ya Rabb!
Hiaskanlah aku dgn syariat Ya Rabb!

Rezkikan aku ketaatan Ya Allah!
Rezkikan aku dgn ketaatan Ya Allah!
Aku ingin bebas dari dosa2 sebegini,
Perit diriku memandang,
Diriku yang berterusan begini...

Lalu,
Terjadilah sesuatu,
Yang logiknya menghiris hatiku,
Namun hatiku senyum tanda gembira,
Dia sedang lapang tersenyum kecil tanda bebas dari sesuatu adanya...

Ku berpaling pada nafsu,
Ku lihat dia sedang menangis kecil,
Namun hatiku berbisik,
Tidak mengapa,
Nafsu itu seperti anak kecil,
Biarkanlah dia sebentar,
Lama dipujuk, dididik, dia akan ok.,
Segala kesedihan akan hilang juga,
Hadiahmu adalah kebebasan dari maksiat wahai Aszifa!

Ya Rabb,
Ya Rabb,
Ya Rabb,
Permintaanku bukan kecil Ya Allah,
Aku meminta keampunan~
Sedang dosaku selaut entah sebesar mana tak dapat aku bayangkan...

Aku tak tahu Ya Allah,
Apa aku cukup kuat,
Lalu hanya padaMu aku berserah,
Sesungguhnya aku tidak berbuat apa2,
Menunggu gerak dariMu sahaja....

Aku yang tidak mengerti,
Namun hikmahnya jelas mengisi,
Di manalah aku punya kekuatan,
Untuk meninggalkan maksiat yang menjerat aktiviti harian,
Jika ia bukan kurniaan daripadaMu Tuhan,

Ah, dunia2
Biarlah sedikit kehilangan dunia,
Apa ingin dunia dibanding akhirat sayangku,
Sedikit saja,
Sebentar saja lagi,
Sekejap saja cuma,

Hatiku sering mengingati Umar,
Yang seringkali berasa tidak apa2 kehilangan apa2 pun,
Kerna ia tidak pernah merugikan agamanya,
Lalu mengapa risau, mengapa sedih, mengapa kecewa...

Kecewa jika gagal fokus!
Fokus pada hikmah adanya!
Aszifa,
Apa kata terakhir kamu tentang dugaan ini?

Allah Maha Besar, terima kasih Ya Allah,
Kerana rukukku akan lebih bermakna selepas ini,
Dengan izinMu jua,
Dugaan bertimpa,
Bertukar ganti dengan perkenalan dgn Pencipta,
Ya Allah,
Yang Maha Berdiri dengan Sendirinya,
Perbaikilah urusanku,
Dan uruskanlah segala urusanku,
Dan janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri,
Walau HANYA sekelip mata....

Aku tak kuasa lagi Ya Allah,
Mengurus hidupku sendiri Ya Khaliq!
Aku lelah,
Namun di takkala saat2 inilah,
Aku berpeluang BULAT MEMANDANG ENGKAU!
Di mana lenyap diriku jua makhluk,
Hanya Allah,
Buat kekuatan,
Untuk aku terus melangkah,
Sederap demi sederap,
Dalam tujuan menuju kematian...

Friday, April 1, 2011

Untuk memahami kebenaran,
Hentikan diri dari memberi persepsi,
Untuk mengatakan kebenaran,
Jadikan diam itu teman sejati...
Bicara dengan seorang rakan,

Bersungguh dia mengingatkan,

Berdoa dengan ini ,

"Ya Allah, masukkanlah aku ke pintu kebenaran dan keluarkanlah aku dari pintu kebenaran, dan kurniakan aku seorang penolong."

:) Doa itu mengingatkan sesuatu, dan hati ini memandang dari dua perspektif....

Perpektif pertama itu tidak mengapa,
Perspektif kedua itu yang menggamit rasa...


Its a good doa... :)

*****

Ya Rabbi,
Ini cerita lain,
Pabila hati,
Terlintas keinginan,
Yang bersesuaian nafsu,
Aku jadi bungkam,
Kerana takut dengan diriku sendiri,

Ku mohon Kau perbaiki urusan2ku,
Namun aku takut aku dusta dalam keinginan ku sendiri,
Pabila hati tidak memberi jawapan,
Adakah ia syubhah dan seeloknya ditinggalkan?

Pabila sesuatu adalah fitrah,
Pabila sesuatu adalah fitrah,
Pabila sesuatu adalah fitrah,

Ia tetap fitrah.

Today


Hari yang mencabar Ya Rabbi,
Bukan senang mengingatMu,
Takkala bukan bersendiri...

Kebenaran itu pahit,
Namun melegakan...
Maafkanlah seribu kata,
Yang terpaksa didahulukan,
Kerana mendahulukan kalimat Tuhan...

Bukan kerana ingin,
Namun kerana mengerti,
Mengerti pabila tidak menyertakan Tuhan,
Dan mengerti apabila beserta Tuhan,

Jika tak melempar,
Bermakna aku berdusta,
Bukan ku lontar kerana kemarahan,
Namun kerana kasih sayang,

Cuma mungkin HIKMAH,
Pabila kita bersuara,
Selepas kita memilih untuk berdiam,
Sukar utk aku mengerti Ya Rabbi,
Kata2 kadangkala memantul kembali pada diri,
Namun kebenaran tetap kebenaran hakiki,

Yang aku pelajari,
Pada hari ini,
Walau diletak bergaul dengan siapa,
Kembali dengan Allah pada setiap masa,
Walau bukan pada setiap kalinya,
Namun bersyukurlah,
Kerna boleh kembali jua mengingat Dia..

Pabila muncul keserabutan,
Luahkanlah pada Tuhan,
Sesungguhnya engkau akan mendengar yang Dia Maha Mendengar,
Luahkanlah apa saja,
Sesungguhnya Dia yang layak melontar seribu kesejukan,
Pada hati yang ingin pujukan...

Diam dalam sabar,
Diam dan sabar,
Things cannot be understood in pieces,
Its a puzzle,
Pabila serpihan2 masih berkumpul,
Diamlah dalam sabar ini,
Menanti kefahaman itu,
Datang menjenguk diri....

Sabar itu separuh dari iman sayangku,
Sedangkan Yakin itu seluruh iman itu...

Sabar, dan Yakin,
Yakin dan Sabar,
Sabar, Diam, Yakin,
Entah mana satu yang dulu,
Aku tak mengerti susunannya...
Namun itulah dia,
Hanya sabar, yakin dan diam,
Dalam menanti sebuah keindahan,
Dan pasti menanti sebuah keindahan itu,
Dengan menguntum sebuah senyuman...

Mengerti?

Tersenyumlah sayangku,
Saat sentiasa di dunia ini,
Kita boleh tersenyum ketika muncul persoalan,
Kita boleh tersenyum ketika muncul kegembiraan,
Kita boleh senyum ketika muncul kesedihan,
Kerana pemahaman akhirnya,
Pasti sebuah keindahan.